Selasa, 07 Februari 2012

2 RESENSI SINOPSIS FILM CHRONICLE - TABLOIDBINTANG.COM

Bertuah Sexy BuwelChronicle, Kisah
Superhero yang Tak
Biasa
"Chronicle" sebuah
kejutan manis.
(dok.20th Century
Fox)
FILM ini, Chronicle adalah
sebuah kejutan manis
yang saya temukan di
bioskop.
Tanpa tahu banyak
tentang film ini, saya
masuk ke dalam
keremangan ruang teater.
Saya baru mendengar
judul film ini saat
undangan untuk preview
filmnya menghampiri.
Mengecek dunia maya,
sampai pekan lalu, tak
banyak yang sudah
mengulas filmnya.
Menyusuri nama
sutradara dan pemain,
tak ada yang saya kenal
rekam jejaknya. Saya
semula berpikir sekadar
menonton untuk
menghilangkan penat dari
rutinitas kerja pagi hari.
Siapa tahu saya akan
terhibur.
Nyatanya saya tak hanya
terhibur. Chronicle tak
terbantahkan film paling
keren yang saya tonton
di awal tahun ini. Kritikus
film Roger Ebert
menyimpulkan dengan
baik kesannya atas
Chronicle: "Sometimes a
movie arrives out of the
blue that announces the
arrival of considerable
new talents." Terkadang,
sebuah film datang entah
dari mana sambil
mengumumkan
kedatangan bakat-bakat
baru yang patut
diperhitungkan.
Sebetulnya, saya tak ingin
membocorkan bahkan
sedikit saja film ini
tentang apa. Saya ingin
membuat Anda memiliki
keasyikan punya rasa
terkejut atas film ini
seperti saat saya
menonton pertama
kalinya tempo hari.
Saya teringat rasa
penasaran yang
dibangun sebuah novel
tipis berjudul The Boy in
the Striped Pyjamas (edisi
Indonesia terbit 2007). Di
punggung bukunya, alih-
alih ringkasan cerita,
malah tertulis: “Kisah
tentang Anak Lelaki
Berpiama Garis-garis ini
sulit sekali digambarkan.
Biasanya kami
memberikan ringkasan
cerita di sampul belakang
buku, tapi untuk kisah
yang satu ini sengaja
tidak diberikan ringkasan
cerita, supaya tidak
merusak keseluruhannya.
Lebih baik Anda langsung
saja membaca, tanpa
mengetahui tentang apa
kisah ini sebenarnya.”
Begitu juga dengan
Chronicle ini. Cara paling
asyik menikmati film ini
adalah tidak tahu apapun
tentang film ini. Biarkan
Anda dibuat pukau pada
gaya pengisahan dan
pendobrakan konvensi
cerita yang sudah ajeg.
Maka dari itu, bila Anda
ingin tetap mendapat efek
surprise atas film ini,
sebaiknya hentikan
membaca sampai sini
dan segera ke bioskop.
***
Saya sadar, di zaman
Web 2.0 begini elemen
surprise paling susah
dipertahankan. Tanpa
seorang penulis resensi
film berniat
membocorkan elemen
ceritanya, Anda mungkin
sudah mendapatkannya
dari ulasan film di situs-
situs lain. Atau Anda bisa
juga mengintip timeline di
Twitter dari orang yang
sudah nonton film ini.
Oleh karena itu, saya tak
hendak lebih lanjut
membodohi diri sendiri
menyimpan rapat-rapat
elemen-elemen film ini.
Bila hendak dikatakan
dalam sebuah kalimat,
film ini adalah kisah
superhero di zaman Web
2.0. Superhero era
Facebook, Twitter, dan
YouTube. Mengutip
kritikus film Philadelphia
Inquirer Steven Rea,
“mungkin begini rasanya
Clark Kent. Jika Clark Kent
punya Facebook.” Film ini
mengisahkan tiga remaja
SMA menemukan kristal
di sebuah tanah
berlubang, dan
setelahnya mereka punya
kekuatan super. Semula
sekadar memindahkan
barang yang ringan-
ringan, tapi kemudian
mereka makin sakti dan
bisa terbang.
Sinopsis singkat itu
familiar bagi penonton
yang mengakrabi kisah
superhero. Tapi, yang
dilakukan sineasnya (film
ini debut penyutradaraan
Josh Trank berdasar
skenario MaxLandis, putra
sutradara John Landis)
menarik lebih jauh kisah
yang sudah diakrabi
penonton itu ke level
yang belum dilakukan
sineas lain.
Pertama, dari gaya
pengisahannya.
Bayangkan kisah
superhero dengan sudut
pandang yang telah
dilakukan oleh Blair Witch
Project, Cloverfield,
ataupun Paranormal
Activity. Ya, film ini
mengambil point of view
dari karakternya yang
memanggul ataupun
memegang kamera ke
mana-mana. Gaya seperti
ini sudah jamak di film
horor, tapi rasanya baru
kali ini dilakukan di film
superhero.
Yang menarik, karena kita
tahu karakter di sini
punya kekuatan super
bisa membuat benda-
benda bergerak sendiri,
kamera terkadang
dibiarkan melayang,
memberi sudut gambar
(angle) yang tak bisa
dilakukan film-film
berjenis dokumenter
bohongan
(mockumentary)
lainnya.
Di Hollywood sana, film
superhero sudah jamak
dibuat. Sineas yang
punya modal banyak
mengisahkan
kepahlawanan superhero
dengan narasi besar,
penuh efek khusus
dahsyat, dan biasanya
tayang saat musim
panas. Sineas yang ingin
filmnya lebih dikenang tak
hanya bermodalpada
narasi besar dan budjet
jutaan dollar. Christopher
Nolan membuat kisah
Batman sama
terhormatnya dengan
film bermutu kelas Oscar
lewat tema berat (chaos,
anarkisme) yang
diusungnya.
Sineas yang tidak kreatif
biasanya
memperpanjang umur
franchise superhero
dengan melanjutkan
cerita yang sudah ada.
Nah, Trank dan Landis
bukan tipe sineas macam
begitu. Lewat Chronicle,
mereka menyegarkan
sesuatu yang sudah
dibuat berulang-ulang
oleh Hollywood. Pendek
kata, Chronicle bukan
seperti film superhero
kebanyakan.
Kedua, dari tema
ceritanya. Remaja punya
kekuatan super rasanya
sudah kita akrabi sejak
1990-an lewat serial My
Secret Identity yang
pernah tayang di RCTI;
atau serial Heroes
beberapa tahun silam.
Namun, yang membuat
film ini terasa segar
adalah apa yang
dilakukan remaja-remaja
yang punya kekuatan
super terasa real di mata
kita, penonton. Seorang
kawan yang duduk di
sebelah saya saat
menonton film ini dengan
baik menyimpulkan,
"Kalau ada orang (remaja)
tiba-tiba punya kekuatan
super ya bakal begitu
juga. Main-main (dengan
kekuatan super itu),
terbang."
Tapi film ini tidak sekadar
main-main dengan
kekuatan super. Film ini
lebih dari itu. Ada sub-
teks remaja yang hidup
di keluarga berantakan.
Ayahnya tak punya
pekerjaan, mabuk-
mabukan, dan sering
memukul. Ibu yang ia
sayangi sekarat di tempat
tifur digeregoti penyakit.
Mereka miskin tak
sanggup membiayai
pengobatang sang ibu.
Dengan serentetan
kepahitan hidup itu film
ini memberi alasan logis
atas tingkah tokohnya
menyalahgunakan
kekuatan supernya. Pada
titik ini saya teringat
manga/anime Akira yang
mengisahkan remaja
bernama Tetsuo yang
tiba-tiba punya kekuatan
super. Tetsuo membuat
kekacauan dengan
kekuatannya sebagai
wujud pembuktian diri,
tak mau terus dianggap
jadi pecundang. Saat Mat
(Alex Russell) berteriak-
teriak menyebut nama
Andrew (Dane DeHaan)
saya teringat Kaneda
berteriak-teriak
memanggil Tetsuo.
Buat saya, Chronicle
bergerak lebih jauh dari
Akira. Selayaknya
Manusia Super Saiyan di
kisah Dragon Ball, kita
melihat apa yang terjadi
lebih dari sekadar wujud
kemarahan, melainkan
kesadaran telah menjadi
spesies paling unggul.
Alih-alih pertarungan dua
bekas sahabat Tetsuo dan
Kaneda di Akira, Chronicle
lebih persis pertempuran
Bezita dengan Goku di
Dragon Ball.
Ah, saya sudah menulis
terlalu banyak. Jangan
sampai saya
membocorkan lebih
banyak lagi soal film ini.
Tonton saja.***
Anak SD

Artikel Yang Berhubungan



Cerita Dewasa Untuk Anak SD

Tulisan RESENSI SINOPSIS FILM CHRONICLE - TABLOIDBINTANG.COM ini diposting oleh Cerita Dewasa pada hari Selasa, 07 Februari 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat disampaikan melalui kotak komentar.

2 komentar:

 

Situs Anak SD Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates